Pengaturan diri seorang mahasiswa aktivis
Pengertian pengaturan diri atau manjemen diri menurut The Liang Gie bahwa manajemen diri berarti mendorong diri sendiri untuk maju mengatur semua unsur potensi pribadi, pengendalian kemauan untuk mencapai hal-hal yang baik, dan mengembangkan berbagai segi dari kehidupan pribadi agar lebih sempurna. Pengaturan diri diperlukan untuk menuntun setiap perilaku agar berjalan dengan baik demi mencapai sebuah tujuan. Seseorang yang dapat memanajemen dirinya dengan baik, kegiatan yang ia lakukan akan terpola kemudian ia dapat mengendalikan dirinya dengan teratur. Mahasiswa adalah seseorang yang sedang belajar menuntut ilmu di perguruan tinggi dengan jurusan tertentu. Sedangkan aktivis menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) adalah orang(terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita, Mahasiswa aktivis mendapat tugas yang lebih banyak dari mahasiswa pada umumnya. Organisasi kemahasiswaan dalam perguruan tinggi adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa untuk menanamkan sikap ilmiah, pemahaman tentang arah potensi diri sekaligus meningkatkan kerja sama, serta menumbuhkan nilai persatuan dan kesatuan (Keputusan Mendikbud Bab I Pasal 1 ayat 2). Selama ini berkembang stereotip dan stigma negatif yang melekat pada diri mahasiswa aktivis terkait dengan prestasi akademik dan masa studinya. Mahasiswa aktivis hampir selalu diasosiasikan dengan prestasi akademik yang rendah dan lulus telat waktu, atau bahkan drop out. Prestasi akademik yang tinggi dan lulus studi tepat waktu bagi sebagian besar mahasiswa mungkin juga bagi para pendidik dan pakar pendidikan menjadi dua standar utama kesuksesan studi, tetapi bagi para mahasiswa aktivis, makna prestasi ternyata bukan sekedar IPK tinggi atau cepat lulus studi. Pendapat ini disampaikan Khoirul Anwar (2012). (Farah, 2014). Seorang aktivis organisasi tentunya akan mendapatkan banyak pelajaran yang mungkin tidak didapat dari materi kuliah yang diberikan, misalnya pelajaran untuk mengatur waktu, bekerjasama dengan berbagai macam orang serta keterampilan sosial. Pengalaman yang didapat oleh mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi tentunya akan berbeda dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi, ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Handycandra (2003) dimana mahasiswa yang mengikuti organisasi tidak hanya mendapat teori dari buku tetapi juga banyak ilmu tambahan terutama prakteknya yang tidak bisa didapatkan bila hanya belajar text book saja di dalam kelas. Salah satu contohnya adalah bagaimana caranya membuat suatu rapat menjadi efektif. Selain itu, dengan bergabung dengan satu atau lebih organisasi maka akses yang dipunyai untuk berhubungan dengan orang lain akan bertambah berlipat-lipat karena dalam organisasi biasanya akan banyak kerjasama-kerjasama lintas kampus bahkan daerah, salah satu contohnya adalah studi banding dengan universitas lain.(andrey, 2011)
Masalah yang sering dihadapi mahasiswa aktivis adalah manajemen waktu anatara kuliah, tugas organisasi, keluarga dan lain-lain. Untuk itu, dibutuhkan manjemen diri yang baik. Manajemen diri merupakan suatu alat untuk menyalurkan keinginan dalam memenuhi kebutuhan kompetensi seseorang yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menjalani proses pendidikannya (Susanto, 2006), dimana untuk mencapainya dibutuhakan adanya motivasi berprestasi (Sappaile, 2007) dan akan mempengaruhi bagaimana seseorang akan mempunyai kepercayaan diri atas kemampuan dirinya yang disebut dengan efikasi diri (Self efficacy). Karena itu adanya efikasi diri untuk dimiliki oleh setiap mahasiswa akan mengakibatkan mahasiswa dapat memiliki keyakinan yang kuat serta memiliki dorongan prestasi yang ingin dicapai untuk setiap target yang dikenal juga dengan sebutan motivasi berprestasi (Zimmerman, 2000.b, Santroc, 2011), terdiri dari 3 komponen utama,yaitu pemberi daya, pemberi arah dan mempertahankan perilaku (Sumantri, 2001), yang berperan untuk rasa gairah, senang dan semangat belajar. (Sardiman, 2009:75), yang merupakan motif seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain (McClelland dalam Alex Sobur, 2003) dengan dasar dari 2 aspek, yaitu pengharapan untuk sukses dan menghindari kegagalan. (Mangkunegara 2007, Smet, 1994). (Hermansyah, 2016).
Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk membagi waktunya antara lain : 1. menentukan target yang akan dicapai atau mencatat tugas-tugas yang akan diselesaikan tidak lupa beserta deadlinenya, 2. menentukan prioritas dari target-target yang dibuat atau tugas yang akan diselesaikan, 3.mulai mengerjakan sesuai dengan prioritas yang telah disusun. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut mahasiswa aktivis dapat mendapatkan manfaat agar bisa menata semua pekerjaannya dengan teratur dan rapi. Manajemen diri sangat penting untuk semua orang karena banyak manfaat yang akan didapatkan seperti meningkatkan produktivitas dan efisiensi, menjadikan diri lebih profesional, tidak ada pekerjaan yang tercecer atau terlupa, dan manfaat lainnya.
Komentar
Posting Komentar